Kota JogjaNews

Laki-Laki Punya Peran Penting Dalam Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender

0

STARJOGJA.COM,JOGJA – Kekerasan berbasis gender masih menjadi persoalan sosial yang serius di berbagai daerah di Indonesia. Upaya pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab perempuan atau lembaga perlindungan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif laki-laki sebagai bagian dari solusi.

Arif Nasiruddin, S.Psi., M.A., Penggerak Swadaya Masyarakat Muda DP3AP2 DIY mengatakan kekerasan berbasis gender di diy masih merupakan fenomena gunung es. selama 10 terakhir angka kasus naik turun.

“Pemda sudah melakukan sistem pencegahan hingga penanganan. Ada dukungan dari komunitas yang membantu. Saat angka yang terungkap itu tinggi maka banyak yang speak up. untuk daerah seperti diy cukup tinggi,” jelasnya dalam bincang Special Breaking the Silence: Peran Laki-Laki dalam Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Star FM, Jumat (06/03).

Arif mengatakan sampai awal Maret 2026 sudah ada seratusan kasus yang sudah masuk dan dilaporkan. Menurutnya, salah satu kesulitannya adalah memberikan efek jera bagi pelaku.

“Pelaku itu harus dirubah pola pikirnya agar tidak melakukan KDRT, tapi faktanya kebanyakan kasus tidak sampai ke pengadilan. Ada kasus yang dicabut. atau istrinya tidak mau memperpanjang. Kami ada program Kolak Manis,Konseling Untuk Laki-laki, Aman Agar Keluarga Harmonis”.Ini adalah program konseling bagi pelaku agar tidak melakukan KDRT lagi,” terangnya.

Saeroni, S.Ag., M.H. Koordinator Nasional Aliansi Laki-laki Baru menegaskan bahwa laki-laki memiliki posisi strategis dalam upaya menghentikan siklus kekerasan berbasis gender. Menurutnya, keberanian untuk bersuara dan menolak segala bentuk kekerasan merupakan langkah awal yang penting.

“Selama ini banyak laki-laki yang sebenarnya tidak setuju dengan kekerasan, tetapi memilih diam. Padahal sikap diam sering kali membuat kekerasan terus berlangsung. Laki-laki perlu berani menyatakan sikap dan menjadi bagian dari perubahan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran laki-laki dalam persoalan ini.

“laki-laki diharapkan tidak hanya menjadi penonton ketika melihat tindakan kekerasan, tetapi mampu melakukan intervensi secara aman, memberikan dukungan kepada korban, serta mendorong pelaporan terhadap pelaku,” jelasnya.

“Laki-laki harus ikut bertanggung jawab mewujudkan lingkungan yang lebih damai. kekerasan itu terjadi karena laki-laki punya masalah tapi tidak bisa menyelesaikannya sendiri,” tegasnya.

Arif Nasiruddin menjelaskan bahwa upaya pencegahan kekerasan berbasis gender perlu dibangun melalui perubahan budaya sosial. Menurutnya, nilai saling menghormati harus ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

“Pencegahan tidak cukup hanya melalui kebijakan. Kita juga perlu membangun kesadaran kolektif bahwa relasi yang sehat antara laki-laki dan perempuan didasarkan pada kesetaraan dan penghormatan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan generasi muda, khususnya laki-laki, menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan.

Obesitas Tidak Sekedar Pengaruh Makanan dan Kurang Berolahraga

Previous article

Indonesia Raih Travelers Choice Awards Best of the Best 2026

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Kota Jogja