STARJOGJA.COM, JOGJA – Lead with Confidence, Bawa Kepemimpinan Perempuan yang Inklusif dan Kolaboratif. Lead with Confidence bagi perempuan melibatkan integrasi ketegasan, empati, dan komunikasi yang kuat. Pemimpin perempuan yang efektif memaksimalkan kecerdasan emosional, berani mengambil risiko, dan menggunakan kualitas feminin
Kepala DP3AP2 DIY Erlina Hidayati Sumardi, S.I.P,M.M menegaskan confidence itu dibangun tidak bisa instant.Bisa dimulai dari jaman anak-anak. Menurutnya, pola pengasuhan juga sangat berpengaruh untuk menumbuhkan kepercayaan diri semenjak dini. Saat jadi pemimpin , perempuan sudah terbiasa untuk memimpin dan tampil di depan.
“Tentu ada peningkatan yang harus dilakukan. Butuh pelatihan dan tetap belajar dari orang lain. Ini penting supaya menumbuhkan kepercayaan diri saat memimpin orang lain,” jelasnya.
Ia menyebut meskipun partisipasi perempuan di berbagai sektor meningkat, keterwakilan mereka di posisi pengambil keputusan masih belum seimbang.
“Data menunjukkan bahwa pemimpin perempuan tidaklah banyak. Perempuan yang duduk di legislatif pun masih terbatas. Jangan hanya memenuhi kuota 30 persen. Partai harus bergerak untuk membina para kader perempuan agar punya bekal cukup untuk maju pileg. Pilihlah caleg perempuan yang punya kapabilitas yang baik,”kata Herlina.
Ia pun menegaskan saat sudah menjabat , perempuan pun juga harus menjaga integritas. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan afirmatif serta dukungan lingkungan kerja yang ramah keluarga untuk mendorong lahirnya lebih banyak pemimpin perempuan.
“Perempuan juga punya kemampuan, sumber daya dan kekuatan yang sama untuk menjadi pemimpin. Tidak ada alasan laki-laki dan perempuan itu maju bareng,”tegasnya
Sementara itu, Dr. Adib Sofia Dosen UIN Sunan Kalijaga menyoroti pentingnya model kepemimpinan yang inklusif dan kolaboratif. Menurutnya, perempuan memiliki potensi besar dalam membangun budaya kepemimpinan yang partisipatif dan empatik.
“Kepemimpinan perempuan seringkali mengedepankan dialog, kerja sama, dan pendekatan berbasis nilai. Ini menjadi kekuatan dalam menciptakan tata kelola yang lebih humanis,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa kepercayaan diri (confidence) menjadi kunci utama.
“Perempuan perlu diberi ruang untuk tumbuh dan percaya pada kapasitasnya. Pendidikan, mentoring, serta jejaring profesional sangat penting untuk memperkuat posisi mereka,” tambahnya.







Comments