STARJOGJA.COM,JOGJA – Konsep maskulinitas terus berkembang seiring perubahan sosial di masyarakat. Jika sebelumnya laki-laki kerap dilekatkan pada stereotip “tidak boleh lemah”, kini paradigma tersebut mulai bergeser. Laki-laki masa kini dihadapkan pada tantangan untuk membangun identitas yang lebih sehat dan setara.
Ketua Mitra Wacana, Wahyu Tanoto, menjelaskan Labeling bahwa “laki-laki itu harus kuat” adalah bentuk konstruksi sosial dan budaya patriarki yang sering disebut sebagai toxic masculinity (maskulinitas toksik).
Pandangan ini menuntut laki-laki untuk selalu tangguh, tahan banting, dominan, dan tidak boleh menunjukkan emosi seperti kesedihan atau menangis
“Harus diakui laki-laki itu tidak sekuat yang diharapkan. kuatnya lelaki itu saat ia mampu merilis semua yang ia terima.menemukan caranya sendiri untuk merilis agar mentalnya sehat. saat menghadapi kondisi negatif laki-laki harus mencari cara melepaskan dalam positif,” katanya.
Wahyu menegaskan bahwa perubahan cara pandang terhadap maskulinitas menjadi bagian penting dalam menciptakan relasi yang adil, baik di lingkungan keluarga maupun sosial.
“Maskulinitas tidak lagi dimaknai sebagai dominasi atau superioritas. Laki-laki perlu berani merefleksikan diri dan membangun karakter yang tegas namun tetap empatik,” ujar Wahyu.
Brian Adi Wijaya, S.Sos, dari Bidang Kualitas Hidup Perempuan DP3AP2 DIY, menyampaikan pihaknya punya telekonseling sahabat dan keluarga ( tesaga) yang bisa jadi ruang curhat bagi masyarakat tak terkecuali para laki-laki yang mengalami masalah.Layanan ini online 24 jam dan rahasia terjamin. Ada juga layanan Pusat Pembelajaran Keluarga Prima DIY (puspaga diy)
“Sadarilah kita bukan mahluk terkuat. kita ada batasan boleh bilang tidak kuat. dengan mengakui kita tidak kuat, maka carilah referensi bagaimana menyikapi kondisi emosinya. Dua layanan tadi bisa diakses saat merasa tidak kuat dan butuh teman cerita,” teranngnya
Ia menambahkan, maskulinitas positif mendorong laki-laki untuk terlibat aktif dalam pengasuhan anak, berbagi peran domestik, serta mendukung perempuan dalam berbagai ruang kehidupan. Kemitraan setara, menurutnya, bukan hanya soal pembagian peran, tetapi juga tentang saling menghormati dan mendukung satu sama lain.
“Harus berbagi power. semua memiliki power untuk saling melengkapi. Harus saling berbagi untuk saling menguatkan dalam semua kondisi,” katanya.
Melalui refleksi bersama ini, diharapkan laki-laki semakin menyadari bahwa maskulinitas bukanlah batasan yang kaku, melainkan nilai yang dapat terus tumbuh. Tegas namun empatik, kuat namun menghargai, menjadi kunci membangun relasi yang sehat dan masyarakat yang lebih inklusif.
Baca juga : Suara Perempuan di Ruang Digital, DP3AP2 DIY Dorong Literasi untuk Tekan Kesenjangan dan Risiko Siber







Comments