Kab SlemanNews

Konsolidasi Jadi Kunci, Industri Bank Syariah Nasional Masuk Fase Ekspansi Baru

0
bank syariah nasional
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu (kiri) sedang menyampaikan tantangan dan potensi pengembangan layanan bank syariah di GIK UGM, Sabtu (28/2 - 2026). Tim Harian Jogja

STARJOGJA.COM, Info – Industri perbankan syariah nasional memasuki fase ekspansi yang semakin solid setelah pangsa pasarnya melonjak dari kisaran 5 persen menjadi 9 persen sejak 2022. Capaian ini dinilai menjadi pijakan penting untuk mengejar target ideal 20 persen dalam beberapa tahun mendatang.

Penguatan struktur industri turut ditopang oleh kehadiran dua bank besar, yakni Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Bank Syariah Nasional (BSN), yang berperan sebagai lokomotif pertumbuhan. Konsolidasi melalui merger dan spin-off dinilai berhasil memperkuat permodalan sekaligus meningkatkan kapasitas pembiayaan, sehingga daya saing perbankan syariah nasional semakin meningkat.

BSI terbentuk melalui merger sejumlah bank syariah BUMN, sementara BSN merupakan entitas baru hasil pemisahan (spin-off) Unit Usaha Syariah BTN yang digabungkan dengan Bank Victoria Syariah. Strategi konsolidasi tersebut dinilai efektif mengatasi persoalan klasik perbankan syariah, yakni keterbatasan modal dalam melayani kebutuhan pembiayaan skala besar.

Dengan penguatan permodalan tersebut, masyarakat dinilai tidak perlu lagi ragu menggunakan layanan perbankan syariah karena kapasitas dan daya saingnya semakin meningkat.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menilai pertumbuhan perbankan syariah tidak bisa hanya mengandalkan mekanisme pasar alami yang cenderung berjalan lambat. Menurutnya, dibutuhkan langkah-langkah anorganik untuk mempercepat peningkatan suplai layanan.

“Kalau diserahkan ke pasar, progresnya tidak akan cepat. Kendala utama ada pada suplai. Ketika modal bank syariah kecil, layanan ke masyarakat juga terbatas. Aksi korporasi seperti merger BSI dan pembentukan BSN menjadi solusi penting,” ujar Anggito.

Pernyataan tersebut disampaikan Anggito dalam acara Jagongan Navigasi Ekonomi Syariah yang digelar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada, Sabtu (28/2/2026).

Selain penguatan modal, pengembangan bisnis perbankan syariah dinilai perlu diarahkan pada percepatan transformasi digital. Keterbatasan jaringan kantor fisik dibandingkan bank konvensional membuat digitalisasi menjadi kunci untuk memperluas jangkauan layanan sekaligus menekan biaya pembiayaan yang selama ini relatif lebih tinggi.

bank syariah nasional

Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu (kiri) sedang menyampaikan tantangan dan potensi pengembangan layanan bank syariah di GIK UGM, Sabtu (28/2 – 2026). Tim Harian Jogja

Literasi Keuangan dan Inklusivitas

Digitalisasi juga dinilai krusial untuk meningkatkan inklusivitas. Saat ini, tingkat literasi masyarakat terhadap perbankan syariah telah mencapai sekitar 60%, namun tingkat inklusivitasnya baru berada di kisaran 40%. Kondisi ini berbanding terbalik dengan perbankan konvensional.

Dengan penguatan layanan berbasis digital, perbankan syariah diharapkan mampu mengejar ketertinggalan, memperluas basis nasabah, dan meningkatkan pangsa pasar secara berkelanjutan dalam beberapa tahun ke depan. (Advertorial)

 

Baca juga :  Ekonomi Syariah Perlu Lebih Disosialisasikan dan Dipraktikkan

Bayu

Pohon Beringin Keraton Yogyakarta Simbol Pengayoman Raja kepada Rakyat

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Kab Sleman