JogjaKUUniknya Jogja

Pohon Beringin Keraton Yogyakarta Simbol Pengayoman Raja kepada Rakyat

0
beringin keraton
google.com

STARJOGJA.COM,JOGJA – Pohon beringin memiliki makna penting dalam tradisi Keraton Yogyakarta. Pohon yang besar dan rimbun ini bukan sekadar tanaman hias, tetapi menjadi simbol pengayoman raja kepada rakyatnya. Puluhan pohon beringin ditanam di berbagai area keraton, bahkan beberapa di antaranya memiliki nama dan nilai filosofi tersendiri.

Keberadaan pohon beringin juga mencerminkan konsep keseimbangan hidup dalam budaya Jawa, termasuk hubungan antara manusia, raja, dan Tuhan.

Sepasang pohon beringin yang paling dikenal berada di tengah Alun-Alun Utara Yogyakarta. Kedua pohon ini disebut ringin kurung, karena dikelilingi pagar berbentuk persegi.

Dua beringin tersebut memiliki nama Kiai Dewadaru yang terletak di sebelah barat dan Kiai Janadaru di sebelah timur.Keduanya berada tepat di garis sumbu filosofi Yogyakarta yang membentang dari utara ke selatan dan menjadi poros tata ruang keraton.

Sebagai pusaka keraton, kedua beringin menjalani ritual jamasan setiap bulan Sura. Dalam tradisi ini, pohon dipangkas hingga membentuk tajuk seperti payung yang melambangkan perlindungan raja kepada rakyat.

Nama kedua pohon juga memiliki makna mendalam yakni Dewadaru berarti “cahaya ketuhanan” danJanadaru berarti “cahaya kemanusiaan”

Penempatan keduanya mencerminkan keseimbangan kehidupan. Dewadaru berada di sisi barat yang searah dengan Masjid Gedhe Kauman sebagai pusat kegiatan keagamaan, sementara Janadaru berada di sisi timur yang searah dengan Pasar Beringharjo sebagai pusat ekonomi.

Keseimbangan antara unsur spiritual dan kehidupan sehari-hari ini menggambarkan filosofi Manunggaling Kawula Gusti, yaitu kesatuan raja dan rakyat serta kedekatan manusia dengan Tuhan.

Menurut cerita turun-temurun, bibit Kiai Dewadaru berasal dari Majapahit, sedangkan Kiai Janadaru berasal dari Pajajaran. Garis keturunan bibit ini terus dijaga setiap kali pohon harus diganti.

Kiai Dewadaru pernah diganti pada 1988 setelah roboh menjelang wafatnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sementara Kiai Janadaru pernah tersambar petir pada 1961 dan juga pernah diganti pada 1926.

Pergantian pohon biasanya dilakukan melalui upacara khusus. Bagian pohon lama dikuburkan di dekat lokasi semula, lalu bibit baru ditanam dengan doa-doa oleh abdi dalem keraton.

Saat ini Kiai Janadaru juga dikenal dengan nama Kiai Jayadaru atau Kiai Wijayadaru, sedangkan Kiai Dewadaru kadang disebut Kiai Dewatadaru. Meski berbeda penyebutan, maknanya tetap sama.

Selain dua ringin kurung, terdapat 62 pohon beringin lain yang ditanam mengelilingi Alun-Alun Utara sebagai batas kawasan. Jika digabungkan dengan Kiai Dewadaru dan Kiai Janadaru, jumlahnya menjadi 64 pohon, sama dengan usia Nabi Muhammad SAW dalam penanggalan Jawa.

Beberapa beringin lain juga memiliki nama, seperti: Kiai Wok, Kiai Jenggot, Agung dan Binatur

Nama-nama tersebut umumnya diambil dari istilah rambut pada tubuh manusia atau melambangkan hubungan antara penguasa dan rakyat.

Pohon beringin juga tumbuh di Alun-Alun Selatan Yogyakarta. Di kawasan ini terdapat dua beringin utama yang disebut Supit Urang, ditanam dengan posisi dan pagar yang mirip seperti ringin kurung di Alun-Alun Utara.

Selain itu terdapat sepasang beringin lain yang mengapit jalan menuju Plengkung Nirbaya serta satu beringin di area sekitar kandang gajah.

Dalam budaya Jawa, pohon beringin dikenal sebagai pohon hayat, yaitu pohon yang melambangkan kehidupan dan perlindungan. Ukurannya yang besar dan rindang memberi rasa aman bagi siapa saja yang berteduh di bawahnya.

Penghormatan terhadap beringin sudah ada sejak masa Kerajaan Mataram Islam. Bahkan ketika keraton berpindah dari Kartasura ke Surakarta, pohon-pohon beringin pusaka ikut dibawa dan ditanam kembali di ibu kota baru.

Dalam tradisi Jawa juga dikenal ungkapan “neres ringin kurung”, yang berarti memberontak terhadap kekuasaan raja. Ungkapan ini menunjukkan betapa kuatnya simbol beringin sebagai lambang kebesaran keraton.

Hingga kini, pohon beringin tetap menjadi bagian penting dari identitas Keraton Yogyakarta — bukan hanya sebagai tanaman, tetapi juga sebagai simbol perlindungan, keseimbangan, dan kehidupan.

Campak Bukan Sekadar Ruam dan Demam, Waspadai Risiko Komplikasi

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in JogjaKU