STARJOGJA.COM, Info – Sungai Batanghari menjadi latar dan alur cerita dari film Mantagi Air dan Manusia karya sutradara Taufik Hidayat Rusti yang mengangkat budaya Melayu Jambi. Film ini dibintangi sejumlah aktor lokal antara lain Muhammad Husni Thamrin, Azhar MJ asal Kerinci, Ide Bagus Putra asal Merangin, Didi Hariadi asal Tanjabtim, dan aktor lainnya asal Muaro Jambi seperti Ahmad Bayu Suwarnadwipa, AinunJa’ariyah, Iyaas Halim, Muhamad Sultan Al Fikri, Muhammad Al Wafi, Haris Mualimin.
“Kami memilih sejumlah wilayah yang dialiri Sungai Batanghari sebagai latar, yakni Kabupaten Kerinci, Kabupaten Merangin, Kabupaten Muaro Jambi, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur,” katanya di Taman Budaya, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, Selasa (17/2/2026).
Menurut dia, keempat daerah tersebut merepresentasikan bentang geografis Jambi dari hulu hingga pesisir. Ia merangkai perbedaan bahasa, adat, dan kebiasaan masyarakat dari kawasan hulu di Kabupaten Kerinci hingga pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Timur menjadi satu narasi utuh dalam film bergenre misteri dengan pendekatan visual spiritual.
“Kami menjadikan air sebagai simbol utama karena sungai tidak hanya menghubungkan wilayah secara geografis, tetapi juga mempersatukan nilai budaya dan kesadaran masyarakat, sehingga temanya adalah manusia dan air yang bermakna spiritual serta ekologis sebagai sumber kehidupan dan cerminan relasi manusia dengan alam,” kata dia.
Pihaknya juga mengajak penonton merenung dan berdiskusi tanpa menghakimi persoalan lingkungan karena setiap penonton memiliki kebebasan dalam menafsirkan pesan film tersebut.
Produksi film Mantagi “Air dan Manusia” menyertakan masyarakat setempat sebagai bagian integral dari alur cerita dan proses kreatif, serta memanfaatkan berbagai properti lokal, termasuk benda khas daerah yang digunakan langsung saat pengambilan gambar dan berperan penting dalam membangun adegan film.
Sementara aktor asal Kabupaten Merangin Ide Bagus Putra mengatakan dirinya menjalani tantangan akting dengan memerankan dua karakter dalam satu sosok, yakni sebagai Jamal dan representasi “hantu air” yang memiliki perbedaan tipis sebagai sindiran halus terhadap eksploitasi lingkungan.
Sumber : Antara
Baca juga : Penonton Berlinale 2026 Antusias dengan Film Ghost in the Cell







Comments