HealthLifestyle

Apa Langkah Kemenkes RI Antisipasi Virus Nipah Merebak di India

0
Virus Nipah
ilustrasi - Dokter patologi klinik memeriksa sampel media pembawa virus Corona untuk penelitian di Laboratorium Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya di Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (6/2/2020). - ANTARA FOTO/Umarul Faruq

STARJOGJA.COM, Info – Virus Nipah dilaporkan merebak di India yang membuat kewaspadaan global meningkat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pun melakukan langkah-langkah antisipasi.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman mengatakan yang mengkhawatirkan dari Virus Nipah adalah tingkat kematiannya cukup tinggi. Gejala berat, tingkat kematian Virus Nipah bisa mencapai 40%-70%.

 

“Ini yang memang harus diwaspadai oleh masyarakat,” kata Aji setelah acara peresmian Primaya Hospital Kelapa Gading pada Selasa (27/1/2026).

 

Virus Nipah juga merupakan penyakit zoonotik yang ditularkan dari hewan, terutama di kelelawar buah. Kemenkes kemudian melakukan tindakan berbasis risk assessment. Saat ini Kemenkes terus melakukan pemantauan kajian situasi secara global maupun nasional.

 

“Kalau nasional itu kita dapatkan data-data langsung di lapangan. Jadi surveilansi kita lakukan. Kita punya sentinel-sentinel di seluruh Indonesia,” ujar Aji.

 

Kemenkes juga mengumpulkan data setiap harinya. Lalu, melakukan berbagai tindakan apabila ada peningkatan kasus.

 

“Akan tetapi saat ini kan jelas belum ada kasus. Jadi itu yang kita lakukan. Termasuk kita kewaspadaan juga di pintu masuk. Jadi seperti di bandara, pelabuhan, untuk barang, orang, itu kita pantau,” kata Aji.

 

Virus Nipah sendiri dilaporkan merebak di India, tepatnya di wilayah Benggala Barat. Melansir Independent, sekitar 100 orang dikarantina setelah virus tersebut terdeteksi di sebuah rumah sakit.

 

Seorang dokter, perawat, dan anggota staf lainnya dinyatakan positif setelah dua kasus pertama yang dikonfirmasi pada seorang perawat pria dan wanita dari distrik yang sama.

 

Merebaknya virus ini juga membuat Tailan, Nepal, dan Taiwan termasuk di antara negara dan wilayah yang telah meningkatkan langkah-langkah pencegahan.  Tailan telah memberlakukan skrining kesehatan di bandara untuk mencegah virus Nipah masuk ke negaranya.

 

Dalam pernyataan resmi, pihak Otoritas Penerbangan Sipil Tailan mengatakan kebijakan skrining ini akan disesuaikan secara dinamis berdasarkan perkembangan situasi.

 

Penumpang yang menunjukkan gejala-gejala yang memerlukan tes lebih lanjut wajib menunjukkan sertifikat medis yang relevan sebelum menaiki pesawat dan harus mematuhi pedoman kesehatan masyarakat selama penerbangan.

 

Kemudian setibanya di Tailan, semua pelancong akan menjalani pemeriksaan suhu dan wajib mengisi formulir pernyataan Kesehatan seperti yang dilakukan untuk skrining Covid-19.

 

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), Virus Nipah dapat menyebabkan demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, dan kesulitan bernapas. Ensefalitis atau pembengkakan otak juga dapat terjadi yang dapat menyebabkan gejala lain seperti kebingungan, kantuk, kejang, atau koma, tambah CDC.

 

Gejala biasanya muncul 4 hingga 14 hari setelah infeksi. Hingga kini belum ada obat khusus yang ditujukan untuk meredakan penyakit akibat virus Nipah. Artinya, pengobatan terbatas pada perawatan suportif dan pengobatan gejala yang diderita oleh pasien.

 

Menurut pembaruan dari Badan Keamanan Kesehatan Inggris, para penyintas juga mungkin mengalami efek neurologis jangka panjang, seperti kejang yang terus-menerus atau perubahan kepribadian.

 

 

 

Sumber : Antara

Baca juga : Inovasi Vaksin mRNA Kemenkes Meluncurkan Quantoom

Bayu

Cakupan JKN 98,99 Persen, Sleman Targetkan Kategori Utama Tahun Depan

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Health