News

Mengenal Tradisi Brokohan, Ungkapan Syukur Kelahiran Anak dalam Budaya Jawa

0
tradisi menyambut bayi

STARJOGJA.COM,JOGJA – Tradisi Brokohan, Ungkapan Syukur Kelahiran Anak dalam Budaya Jawa. Dalam budaya Jawa, kelahiran buah hati tidak hanya dirayakan secara personal, tetapi juga diwujudkan melalui sebuah tradisi sarat makna yang disebut brokohan.

Brokohan merupakan upacara sederhana yang dilakukan pada hari kelahiran bayi, bersamaan dengan prosesi mendhem ari-ari. Tradisi ini menjadi penanda sekaligus pemberitahuan kepada lingkungan sekitar bahwa seorang anak telah lahir ke dunia.

Secara etimologi, kata brokohan berasal dari bahasa Arab barokah yang berarti berkah. Maknanya pun sejalan, yaitu sebagai ungkapan rasa syukur atas kehadiran anggota baru dalam keluarga, sekaligus doa agar sang anak tumbuh dengan penuh keberkahan, kesehatan, dan kebahagiaan.

Tradisi Sederhana, Makna Mendalam

Brokohan termasuk dalam kategori upacara alit atau upacara kecil. Sesaji yang disiapkan pun tidak rumit dan cenderung sederhana, sehingga hingga kini masih banyak keluarga muda Jawa yang melestarikannya, meski dengan penyesuaian zaman.

Salah satu sesaji utama adalah jenang tujuh macam atau jenang neton. Jenang ini terdiri dari jenang putih, jenang merah, jenang baro-baro, jenang blowok, jenang palang, jenang sliring, serta jenang merah yang diberi sedikit jenang putih di bagian atasnya.

Jenang putih melambangkan ibu, sementara jenang merah yang diberi gula jawa melambangkan ayah. Perpaduan keduanya menjadi simbol orang tua, sementara jumlah tujuh melambangkan harapan akan rezeki dan kebahagiaan yang berlimpah bagi sang anak.

Selain jenang, terdapat pula dawet, minuman tradisional berbahan tepung pati yang disajikan dengan santan, juruh gula merah, dan daun pandan. Sesaji lainnya meliputi telur ayam kampung mentah, kelapa yang dibelah dua, gula jawa, serta kembang sritaman yang dibungkus daun pisang.

Dibagikan sebagai Wujud Kebersamaan

Setelah didoakan, sesaji brokohan kemudian dibagikan kepada tetangga dan kerabat terdekat. Menariknya, jumlah paket sesaji yang dibagikan tidak ditentukan sembarangan, melainkan mengikuti perhitungan hari dan pasaran Jawa saat bayi lahir.

Sebagai contoh, jika bayi lahir pada hari Senin Wage, maka nilai Senin (4) dijumlahkan dengan nilai Wage (4), sehingga totalnya 8. Artinya, keluarga akan menyiapkan 8 rangkaian sesaji brokohan untuk dibagikan.

Bagi keluarga muda masa kini, brokohan bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga menjadi cara hangat untuk berbagi kebahagiaan, mempererat hubungan sosial, serta mengenalkan nilai budaya sejak dini kepada anak.

Di tengah gaya hidup modern, tradisi sederhana seperti brokohan menjadi pengingat bahwa rasa syukur dan kebersamaan tetap menjadi inti dari sebuah keluarga.

Pemerintah Melindungi Lukisan di Dinding Gua Metanduno

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in News