JogjaKUNewsUniknya Jogja

Tradisi Mendhem Ari-ari, Warisan Budaya Jawa yang Sarat Makna

0
mendhem ari-ari
Ibu Hamil (foto : JIBI)

STARJOGJA.COM,JOGJA – Bagi masyarakat Jawa, kelahiran seorang anak bukan hanya peristiwa biologis, tetapi juga momen sakral yang penuh makna. Salah satu tradisi yang masih dijaga hingga kini adalah mendhem ari-ari, yaitu prosesi penguburan plasenta bayi setelah proses persalinan.

Ari-ari atau plasenta dipercaya memiliki peran penting karena selama dalam kandungan, organ inilah yang melindungi dan menyalurkan nutrisi bagi janin. Karena dianggap sebagai “sedulur” sang bayi, ari-ari diperlakukan secara khusus melalui ritual mendhem ari-ari sebagai bentuk penghormatan dan doa.

Dikutip dari kratonjogja.id, Dalam tradisi Jawa, prosesi mendhem ari-ari biasanya menjadi tugas ayah sang bayi. Ia melakukannya dengan mengenakan busana padintenan yang rapi, lengkap dengan nyamping dan blangkon gagrak Yogyakarta. Hal ini menjadi simbol tanggung jawab ayah sebagai pelindung dan penuntun anak dalam kehidupan.

Ari-ari yang telah dibersihkan hingga tidak mengeluarkan darah dimasukkan ke dalam kendil, periuk kecil dari tanah liat. Di dalam kendil tersebut juga dimasukkan berbagai perlengkapan yang sarat simbol, seperti kain mori, garam, jarum dan benang, kertas bertuliskan huruf Jawa-Latin-Arab, serta kembang sritaman.

Pada beberapa versi tradisi, turut ditambahkan minyak wangi, kembang boreh, kunyit, kemiri, ganthal, uang logam, lawe, beras, gereh pethek, hingga daun keladi. Setiap benda memiliki makna dan doa tersendiri untuk masa depan sang anak.

Garam, beras, kemiri, dan gereh pethek melambangkan kebutuhan pangan, benang dan jarum mencerminkan kebutuhan sandang, sementara kertas bertuliskan berbagai huruf menyimbolkan pentingnya ilmu pengetahuan. Kunyit dan kembang boreh bermakna harapan akan kesehatan, sedangkan uang logam menjadi simbol agar kelak anak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.

Setelah semua perlengkapan dimasukkan, kendil ditanam di tanah sedalam lengan sang ayah. Di atas lokasi pendhem-an dipasang lampu yang dinyalakan setiap malam selama 35 hari atau selapan, sebagai simbol penerang jalan hidup sang anak.

Di tengah gaya hidup modern, tradisi mendhem ari-ari menjadi pengingat bagi keluarga muda bahwa nilai-nilai budaya lokal menyimpan pesan mendalam tentang tanggung jawab orang tua, harapan, dan doa terbaik untuk masa depan buah hati. Mengadaptasi tradisi ini secara bijak dapat menjadi cara sederhana untuk mengenalkan akar budaya kepada generasi berikutnya.

Series “Trio Bintang Lima” Angkat Relasi Antar Generasi dan Nilai Empan Papan Jogja

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in JogjaKU