STARJOGJA.COM,INFO – Perjalanan film dari layar bioskop ke platform OTT kini makin singkat. Buat penonton, ini tentu menguntungkan. Tapi di balik kemudahan itu, industri perfilman justru menghadapi tantangan baru.
Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) kini sedang mengkaji ulang aturan main soal jarak waktu penayangan film dari bioskop ke layanan streaming.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kemenbud, Ahmad Mahendra, menyebut kondisi film Indonesia sebenarnya sedang berada di fase positif. Sepanjang 2025, jumlah penonton bioskop tembus 80,27 juta orang. Meski sempat turun di pertengahan tahun, kehadiran film-film blockbuster seperti Agak Laen Menyala Pantiku berhasil mengerek kembali minat penonton hingga akhir tahun.
Meski jumlah penonton tinggi, capaian box office justru menurun. Sepanjang 2025, hanya sekitar 12 film yang berhasil menembus kategori box office. Angka ini lebih rendah dibanding 2024 yang mencapai sekitar 20 judul. Catatan ini menjadi perhatian pemerintah, meski optimisme tetap dijaga.
Menurut Mahendra, tantangan ke depan adalah menjaga ekosistem bioskop agar tetap sehat secara ekonomi. Kebiasaan menonton film di layar lebar dinilai masih sangat penting, terutama untuk menopang industri film nasional.
Di sisi lain, perkembangan teknologi membuat jalur distribusi film makin beragam. Banyak film bioskop yang kini cepat hadir di OTT, bahkan hanya berselang tiga hingga empat bulan. Kemenbud pun tengah mengkaji kemungkinan penetapan jeda tayang yang lebih panjang.
“Ke depan minimal bisa enam bulan. Itu yang sedang kita coba atur,” ujar Mahendra.
Meski masih ada evaluasi dan skema yang perlu dibenahi, pemerintah tetap optimistis industri film Indonesia bisa terus tumbuh, asalkan bioskop dan OTT berjalan seimbang dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.






Comments