STARJOGJA.COM, Info – Masyarakat kelas menengah tidak hanya menjadi andalan di bidang ekonomi tetapi juga menjadi andalan di bidang pariwisata nasional. Menurut lembaga riset Next Indonesia Center memberikan datanya jika masyarakat kelas tengah menjadi tulang punggung.
“Kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah ini merupakan tulang punggung industri pariwisata nasional. Volume pergerakan wisata domestik dan total nilai belanja mereka tetap menjadi yang terbesar dibandingkan kelompok lainnya,” kata Direktur NEXT Indonesia Center Christiantoko dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (7/1/2025).
Christiantoko menyampaikan minat masyarakat kelas menengah untuk berwisata tetap tinggi meski negara sedang mengalami tekanan ekonomi. Kenaikan biaya hidup yang menyebabkan keterbatasan anggaran pun, justru mendorong kelompok tersebut mengubah pola perjalanan dengan memilih destinasi yang lebih dekat dan terjangkau.
Fenomena itu dapat dibuktikan dengan adanya data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara tembus 1,02 miliar pada tahun 2024, atau tumbuh 21,61 persen dari tahun sebelumnya.
Tren positif ini berlanjut pada periode Januari-September 2025 dengan total 901,9 juta perjalanan, yang secara konsisten lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada dua tahun terakhir.
Ia turut mengutip data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) periode Maret 2024 yang menunjukkan banyaknya perjalanan liburan dipengaruhi oleh tingginya kelompok ekonomi warga.
Dalam setahun terakhir saja, sekitar 33,47 persen warga kelas atas pernah berwisata keluar kabupaten/kota. Sementara kelompok miskin yang mengaku pernah berwisata hanya 2,14 persen.
“Ada sekitar 10,4 juta warga kelompok menuju kelas menengah dan 7,6 juta warga kelas menengah yang pernah melancong dalam setahun terakhir,” ujarnya.
Menurutnya jumlah perjalanan masih dapat terus ditingkatkan, sebab dalam setahun terakhir hanya 7,8 persen penduduk Indonesia yang pernah pergi ke luar kabupaten/kota tempat tinggalnya.
Sektor pariwisata, katanya, tidak perlu menanam modal yang besar karena disediakan oleh alam, namun memiliki multiflyer efek yang besar. Secara nominal, kelompok kelas menengah menyumbangkan dana fantastis sebesar Rp132,1 miliar per bulan untuk perjalanan wisata, serta Rp226,5 miliar per bulan untuk hotel dan penginapan.
“Angka tersebut membuktikan bahwa tanpa daya beli kelompok ini, industri perhotelan dan transportasi nasional akan kehilangan mesin pertumbuhan utamanya,” kata dia.
Temuan lain yang ia sebutkan yakni terjadinya perubahan perilaku dari pola belanja wisatawan. Pada tahun 2024 misalnya, jumlah rata-rata pengeluaran wisatawan nusantara per perjalanan turun jadi Rp2,3 juta.
Angka itu turun dari tahun 2023 di mana rata-rata pengeluaran mencapai Rp2,7 juta per perjalanan.
Sedangkan dari destinasi favorit Pulau Jawa masih unggul dibanding daerah lainnya. Jawa Timur dikatakannya menjadi provinsi asal sekaligus tujuan utama dengan 218,7 juta kunjungan pada 2024.
Daerah ini jadi favorit wisatawan kelas menengah karena jarak yang ditempuh dekat dan infrastrukturnya juga relatif baik.
Sebaliknya, destinasi di luar Jawa, terutama wilayah Timur seperti Papua, masih mencatatkan kunjungan terendah, lantaran biaya transportasi yang mahal dan fasilitas yang terbatas.
“Karena itu, kebijakan pariwisata tidak bisa berdiri sendiri tapi perlu terhubung langsung dengan kebijakan ekonomi yang menjaga stabilitas harga dan pendapatan riil rumah tangga, sehingga daya belinya tetap terjaga dan pariwisata domestik tumbuh lebih stabil, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Christiantoko.
Sumber : Antara







Comments