STARJOGJA.COM, Info – Sering banyak orang mengucapkan gaji numpang lewat di mana penghasilan baru diterima, tapi langsung habis dalam hitungan hari. Ahli perencana keuangan, Rista Zwestika, menjelaskan ada banyak strategi sederhana yang bisa diterapkan untuk memutus pola “gaji hilang dalam sekejap”, seperti mengaktifkan tabungan berjangka dengan saldo yang tersedot otomatis, membatasi pengeluaran impulsif, serta menempatkan prioritas ke kebutuhan jangka panjang.
Contoh upaya ini terlihat dari Agustina, seorang karyawan dengan penghasilan UMR yang memulai side hustle dengan berjualan makanan ringan di kantornya.
“Awalnya cuma iseng bawa beberapa cemilan buatan sendiri. Ternyata banyak teman kantor yang suka dan minta dibikinin lagi,” ujar Agusti.
Berbekal keahliannya membuat camilan, ia kini mampu menambah penghasilannya secara konsisten setiap bulan. Bahkan, ia juga bisa menyewa slot kantin di kantornya dan memperkerjakan seorang karyawan. Di saat waktu senggang, ia pun bisa bekerja sembari mengontrol dagangannya.
Langkah yang dilakukan Agusti pun menjadi bukti bahwa untuk menambah penghasilan bisa dimulai dari sekadar hobi dan dapat memulai dari kemampuan yang sudah ada. Yang terpenting, kata Rista dalam melakukan side hustle perlu membangun jaringan dan secara bertahap bisa meningkatkan nilai diri.
“Upgrade value-nya, perbesar link-nya. Peluang itu datang kalau kita siap,” kata Rista.
Para ahli juga menyoroti bahwa tahun 2025 menjadi titik balik karena perubahan gaya hidup masyarakat berlangsung bersamaan dengan menjamurnya event-event hiburan, termasuk konser besar dan festival musik yang menghadirkan banyak artis internasional.
Rista menjelaskan bahwa perbaikan kondisi keuangan personal tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi membutuhkan penyesuaian strategi yang sesuai dengan latar belakang tiap individu.
Langkah pertama yang perlu menjadi perhatian adalah pengelolaan pendapatan.
“Apa sih yang kita benerin? Contoh, kalau kita punya pendapatan, apakah pakai rumus 50-30-20 atau 50-20-10-10? Itu bisa disesuaikan dengan kondisi klien,” ujar Rista.
Rista, yang juga merupakan Founder dan CEO Finante.id, itu juga menyebutkan bahwa faktanya, 80 persen masyarakat Indonesia tidak memiliki dana darurat. Padahal, dana darurat menjadi hal terpenting dalam berkehidupan. Dana darurat adalah jaring pengaman untuk menjaga stabilitas keuangan pribadi maupun rumah tangga, yang bertujuan untuk memberikan perlindungan finansial dari kejadian tak terduga seperti kehilangan pekerjaan, biaya medis mendadak, atau kerusakan properti agar tabungan utama dan investasi jangka panjang tidak terganggu.
“Sejumlah persoalan dasar, seperti tidak memiliki dana darurat juga masih dialami mayoritas masyarakat Indonesia. Ini yang perlu kita benerin dulu. Dari pendapatan yang ada, kita atur pengeluarannya sehingga klien bisa nabung atau investasi dengan tujuan membuat dana darurat,” tutur Rista.
Soal anggapan bahwa gaji UMR memiliki tabungan adalah hal yang mustahil, Rista menepis hal tersebut. Menurutnya, hal itu berkaitan dengan kebiasaan, bukan seberapa besar pendapatan. Ia mencontohkan beberapa kliennya yang memiliki gaji setara UMR namun tetap mampu menyisihkan uang.
“Strateginya simple. Begitu punya pendapatan, sisihkan dulu 10 persen di awal, kalau pun cuma bisa lima persen pun tidak apa-apa, yang penting menyisihkan, bukan menunggu sisa,” kata Certified Financial Planner yang aktif memberikan edukasi dan konsultasi keuangan.
Rista menambahkan bahwa setelah alokasi tabungan dan investasi dicadangkan di awal, barulah seseorang bisa masuk ke kebutuhan inti, seperti tempat tinggal, makan, transportasi, komunikasi, hingga alokasi untuk orang tua. Setelah kebutuhan terpenuhi, barulah seseorang dapat memikirkan keinginan, seperti berbelanja, rekreasi, atau rencana liburan.
Jika setelah seluruh penghitungan ternyata masih ada kekurangan, langkah selanjutnya adalah mencari peluang dengan meningkatkan kualitas diri untuk memperbaiki kondisi finansial.
Untuk menggambarkan hal itu, Rista mencontohkan bagaimana keterampilan dapat membuka sumber pendapatan baru.
“Misalnya seseorang punya suara bagus, kenapa nggak ambil sertifkiasi public speaking atau MC? Lalu cari pengalaman untuk portofolio, nanti lama-lama dapat bayaran sampai 5 juta per event misalnya,” jelas perencana keuangan yang telah menangani ribuan klien.
Peningkatan kualitas diri kata Duta Literasi Keuangan Syariah tersebut, dapat membuka peluang memperoleh pendapatan tambahan di luar pekerjaan utama.
Di era digital, peluang tersebut dikenal sebagai side hustle, yakni pekerjaan sampingan yang bisa dilakukan fleksibel sesuai keahlian dan waktu yang tersedia. Menurutnya, banyak side hustle yang dapat dimulai tanpa modal besar, seperti jasa desain, keahlian membuat tulisan, fotografi, tutor daring, reseller produk, atau keahlian lain yang berbasis hobi.
Hal terpenting adalah bagaimana individu dapat mengatur waktunya dan kesediaan untuk meningkatkan kompetensi.
Dengan kombinasi manajemen keuangan yang baik, perlindungan finansial, dan peluang side hustle, Rista menilai masyarakat dapat membangun ketahanan ekonomi yang lebih kuat di tengah tren gaya hidup yang semakin menuntut.
“Yang penting fokus ke solusi, bukan pada keterbatasan. Banyak jalan untuk memperbaiki kondisi keuangan kalau kita mau upgrade diri,” tutup Rista.
Sumber : Antara
Baca juga : Pemerintah Bakal Salurkan Bantuan Subsidi Upah untuk Pekerja dengan Gaji di Bawah Rp3,5 Juta







Comments